On March 12, 2026, while attending the ASEAN-Korea Influencers Night, I recalled a memorable question posed when we have a casual networking session at that time. The question is about why Indonesian cinemas seem to be filled with horror films.
Tampilkan postingan dengan label Drama Reviews. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama Reviews. Tampilkan semua postingan
"Kalau saja...,"
Judul: Mouse (마우스)
Episode: 20
Sutradara: Choi Joon-bae
Penulis: Choi Ran
Halo, teman-teman! Sudah lima bulan aku tidak menulis review drama di blog ini. Dan ya, aku kembali dengan review drama Korea berjudul 'Mouse'. Tentu saja, seperti yang sudah kutulis pada judul, review ini mengandung spoiler yang parah.
Awalnya aku nggak berminat menonton drama ini, pasalnya terlalu ramai dibicarakan oleh orang-orang di sekitarku. Tapi karena aku menonton variety show 'Master in House'-nya Lee Seung-gi, aku jadi terkena spoiler oleh Cha Eun-woo. Dan bocoran Eun-woo saat itu berhasil membuatku penasaran.
'Bagaimana bisa dia adalah antagonisnya?', pikirku.
Teaser
Sinopsis
Drama ini menceritakan tentang seorang polisi muda yang bekerja di kantor kepolisian suatu daerah bernama Jung Ba-Reum (Lee Seung-Gi). Dia adalah polisi keliling yang dikenal ramah dan sangat menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan. Suatu hari, dia dihadapkan dengan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang psikopat. Kasus tersebut sangat menggemparkan Korea Selatan dan membuat warganya ketakutan. Ketika berusaha memecahkan kasus tersebut bersama dengan beberapa tim-nya, yakni detektif Go Mu-Chi (Lee Hee-Jun) dan produser acara misteri Choi Hong-Ju (Kyung Soo-Jin), kehidupan mereka menjadi berubah.
Review Singkat
Seperti yang kukatakan sebelumnya, bahkan sebelum menonton drama ini, aku sudah mendengar spoiler tentang siapa penjahatnya. Sebenarnya, aku tidak masalah dengan spoiler, tapi serius, kali ini spoiler-spoiler tersebut membuatku merasa bosan ketika menonton 4 episode pertama drama ini. Aku nggak begitu menyukai momen dimana 'aku' sudah tahu siapa penjahatnya, tetapi penjahatnya malah mendapatkan exposure atau perlakukan yang sangat positif dari masyarakat. Menurutku momen itu sangat menyesakkan.
Tapi! Setelah episode 4, semuanya menjadi semakin membaik, dan bahkan sangat mencengangkan sampai ke akhir. Drama ini sangat, WOW! Mindblowing~ Aku suka bagaimana penulis mengungkapkan setiap misteri di Mouse ini. Begitupula dengan tim produksi yang mengubah Opening video setiap kali rahasia-rahasia baru terungkap. Keren banget! Mungkin, kalau aku menonton drama ini on-going, kayaknya akan pusing dan stress.
Nonton Mouse + spoiler kayak jadi detektif beneran! Udah tau siapa penjahatnya, tapi masih cari bukti dan metode kejahatan yang dilakukan si penjahat.
Hubungan antar karakternya sangat rumit. Tapi nggak apa-apa, hal itu membuat drama ini sulit untuk ditebak.
Spoiler
Karena bingung bagaimana menulis review drama ini tanpa spoiler, jadi aku akan menulis reaksi-ku yang sempat kucatat ketika menonton drama ini dari episode 1. Disinilah spoiler-spoiler akan terungkap, haha. Kalau kalian tidak suka spoiler, silahkan scroll terus sampai overall review, ya!
"Apa yang akan kalian lakukan kalau kalian dapat telepon dari diri kalian di masa depan? Angkat? Jangan?"
Judul: Times (2021)
Episode: 12
Sutradara: Yoon Jong-Ho
Penulis: Lee Sae-Bom, An Hye-Jin
Halo, teman-teman!
Aku kembali lagi untuk mereview drama berjudul Times. Yak, sebenarnya aku tidak bisa mengatakan ini review yang bagus, bahkan bisa dibilang tidak jelas karena aku pun bingung menyusun paragraf yang jelas untuk menjelaskan ini tuh gimana. Tapi, berhubung aku baru saja menyelesaikan drama ini dan aku juga sudah lama tidak mereview drama, jadi, jadilah review ini, hehe.
Trailer
Sinopsis
Drama ini menceritakan tentang Seo Jung-In (Lee Joo-Young), seorang reporter sekaligus anak calon presiden bernama Seo Ki-Tae yang mati tertembak karena persaingan politik. Di tahun 2020, Jung-In terbangun dalam kondisi tidak mengingat apa-apa tentang kematian ayahnya, bahkan ia pun lupa kalau ia tidak bekerja di perusahaan televisi yang sama. Jung-In akhirnya berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupannya yang 'asing' itu dan kembali bekerja sebagai reporter di perusahaan media kecil bernama Times.
Suatu hari, sebuah badai melanda Korea Selatan dan petir merusak menara jaringan sehingga tidak ada ponsel ataupun jaringan internet yang bisa terhubung. Tapi secara ajaib, seseorang mampu menelepon ponsel Jung-In. Seorang reporter bernama Lee Jin Woo, menelepon Jung-In dari tahun 2015, hari dimana Seo Ki-Tae terbunuh. Dengan harapan yang kurang masuk akal, Jung-In meminta tolong Lee Jin-Woo untuk menyelamatkan ayahnya.
Review
Karena mengusung konsep fantasi, yakni tentang fantasi waktu/time, aku cukup tertarik untuk memulai drama ini. Terlebih, aktor utamanya juga cukup menjanjikan. Tapi, berita buruknya adalah ada drama lain yang tayang sebelum Times dan memiliki konsep time yang serupa, yakni bisa terhubung dengan masa lalu/masa depan melalui sebuah ponsel. Jadi ketika menonton, mau tak mau aku agak membandingkan kedua drama itu.
Misi pertama karakter utama kita adalah menyelamatkan calon presiden. Hal itu sudah menandakan bahwa konsep fantasi time ini akan dipadukan dengan konflik politik, yang secara pribadi banyak percakapan berisi siasat siasat jahat politikus yang membuatku bosan. Tapi, melalui drama ini aku cukup suka bagaimana karakter-karakter disini digambarkan agak abu-abu, manusiawi gitu, jadi jahatnya terkesan nyata banget, karena musuh bisa jadi teman, dan teman juga bisa menjadi musuh, semua itu didorong dengan situasi dan kondisi serta visi dan misi setiap individu.
Drama ini juga melatarbelakangi pekerjaan karakter utama kita sebagai reporter atau media. Jadi drama ini juga menggambarkan bagaimana peran media dalam menjalankan tugasnya dengan benar tanpa memandang bulu. Terlebih ditambah adanya tekanan politik.
Times & Kairos
Seperti yang aku bilang, bahwa sebelum Times ini tayang, ada drama yang mengusung konsep yang serupa, judulnya Kairos. Sebenarnya hanya konsep fantasinya saja yang serupa, tapi keseluruhan cerita berbeda. Dan perbedaannya terletak pada genre yang dipadukan dengan konsep fantasi tersebut. Kalau Times memadukan fantasi dengan konflik politik, sedangkan Kairos memadukan fantasi dengan konflik bisnis. Walau pun begitu, kedua drama ini sama-sama mengangkat isu korupsi yang terjadi pada masing-masing bidang. Dan tentu saja, profesi pelakunya berbeda, yang satu pimpinan negara, yang satu lagi pimpinan perusahaan.
Secara pribadi, kalau disuruh memilih, aku lebih menyukai Kairos, karena konflik politik tuh agak membosankan. Sedangkan Kairos, walaupun membahas konflik bisnis, tapi drama itu juga memunculkan konflik hubungan antar karakter disana, jadi lebih banyak hal tak terduga yang mengejutkan. Tapi, Times juga cukup seru untuk diikuti kalau kalian tahan menonton konflik politik, apalagi ketika drama ini mencapai ending.
MUNGKIN INI SPOILER, jadi kalian bisa skip baca paragraf ini. Di akhir episode 12, Seo Jung-In dan Lee Woo-Jin yang berhasil mengungkap kejahatan politik di era mereka, dikejutkan dengan sebuah telepon yang berdering, yang ternyata adalah panggilan dari Seo Jung-In (dari masa depan).
Aku suka bagaimana cara drama ini mengakhiri ceritanya, seolah memberikanku pertanyaan seperti 'Apa yang akan aku lakukan kalau aku mendapat telepon dari aku di masa depan? Angkat? Jangan?'.
Mungkin kalau benaran ada telepon dari masa depan, panggilan pertama akan aku angkat dengan dasar rasa penasaran, haha. Tapi selanjutnya mungkin tidak, sepertinya akan merepotkan kalau terus menerus memikirkan masa depan yang padahal kita aja belum rasakan.
Drama ini mengungkap, walaupun masa lalu diubah dengan mencegah kejahatan yang akan terjadi di suatu masa, tentunya akan ada konsekuensi yang mungkin akan memunculkan kejahatan lain di masa depan baru yang tercipta. Terlalu bergantung dengan masa lalu itu sesuatu yang agak menyedihkan menurutku. Disini tuh seolah 'masa depan' akan terus mengusik kehidupan 'masa kini' kalau mereka berkesempatan untuk mengubah itu.
Overall Review
✩✩✩
3.5/5 bintang
Nggak buruk. Namun, karena aku nggak begitu suka unsur politiknya, karena terkesan membosankan, jadi agak minus sedikit untukku. Terlebih ada perbandingan drama lain, yakni Kairos. Kalau kalian suka dengan drama fantasi yang dipadukan konflik antara politik dan media, mungkin ini bisa ditonton.
Halo!
Bulan Maret ini, aku menyelesaikan drama bertabur bintang ini. Aku tahu ini sangat telat, tapi mungkin sebagian dari kalian juga baru menonton drama ini sepertiku, atau bahkan belum menonton drama ini. Kusarankan, tonton!
Judul: Mr. Sunshine (미스터 션샤인)
Episode: 24
Sutradara: Lee Eung Bok, Jung Ji Hyun
Penulis: Kim Eun Sook
Trailer
Sinopsis
Drama ini mengisahkan kisah perjuangan yang indah nan dramatis yang dilakukan oleh masyarakat Korea ketika negara mereka baru dijajah oleh Jepang. Choi Yu-Jin, anak seorang budak yang pergi melarikan diri dari rumah majikannya setelah menyaksikan kedua orang tuanya disiksa semena-mena. Pertemuannya dengan Joseph, warga Amerika Serikat, ia berhasil pergi ke Amerika dan kembali ke Joseon sebagai kapten Angkatan Laut AS.
Lalu ada Go Ae Sin, perempuan keturunan keluarga terpandang yang kehilangan kedua orangtuanya karena dibunuh. Ia tumbuh menjadi seorang ahli sniper dan anggota Righteous Army, pasukan militer ilegal yang dibentuk untuk memperjuangkan kebebasan Korea Selatan. Pertemuan pertama Yu-Jin dan Ae-Sin yang awalnya hendak saling bunuh, akhirnya membuat keduanya saling jatuh cinta.
Selain itu, ada Goo Deung Mae, anak seorang butcher yang pergi ke Jepang setelah kedua orang tuanya tiada. Ia kembali ke Joseon sebagai salah satu anggota Yakuza yang ahli menggunakan pedang samurai dan ditakuti oleh masyarakat disana. Karena Ae-Sin pernah menolongnya, ia jatuh cinta pada Ae Sin.
Ada juga Hina Kudo, seorang wanita anggun yang menjadi pemilik Glory Hotel setelah suaminya yang berkebangsaan Jepang mati. Dan ada pula, Kim Hee Seung, tunangan Ae-Shin yang kembali dari Jepang setelah bertahun-tahun. Awalnya ia pergi ke Jepang untuk menghindari pernikahannya dengan Ae-Shin, tetapi nyatanya, ia jatuh cinta ketika tak ada lagi ruang di hati Ae-Shin untuknya.
Drama ini menceritakan perjuangan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh di atas untuk mengembalikan kekuatan, tahta dan martabat Joseon sebagai sebuah negara.
Review
Awalnya tuh aku berpikir drama ini sangat berat dan membosankan. Tetapi ternyata, dibandingkan mengambil trope cerita sejarah yang membosankan (menteri korupsi, mengelabui raja, romansa berlebihan), drama ini memberikan sensasi baru dengan cerita yang kental sekali sejarahnya.
Plot
Drama ini bergenre historical fiction atau fiksi sejarah. Walaupun drama ini diinspirasi dari peristiwa sejarah yang nyata, tentunya ada pula karangan 'fiksi' si penulis dalam drama ini. Aku kurang memahami sejarah mereka (sejarah Indonesia pun kurang), jadi aku kurang bisa menjelaskan bagian mana yang fiksi dan mana yang dari peristiwa nyata.
Namun, sebagai sebuah drama, aku benar-benar salut dengan Kim Eun-Sook yang mampu menulis dan menciptakan cerita dengan plot yang kompleks dengan world building yang sangat menakjubkan. Dan walaupun drama ini kental akan sejarah dan nilai perjuangan, hebatnya drama ini tidak membosankan.
Bumbu-bumbu romansa diberikan sewajarnya. Kisah cinta antara Yu-Jin dan Ae-Sin tuh terkesan klasik, antik dan cantik. Indah yang tidak berlebihan dibandingkan drama tulisan Kim Eun Sook sehabis ini.
Kisah persahabatan dan loyalitas para karakternya juga sangat menghangatkan hati. Kalimat-kalimat komedi dan sarkastik yang dikeluarkan oleh beberapa karakternya tuh benar-benar menghibur dan membuat drama ini terasa tidak seberat dan tidak sepusing yang aku bayangkan. Komedinya pas banget.
Karakter
Karakter favoritku adalah Ae Sin dan Hina (Yang Hwa). Dua karakter perempuan ini benar-benar kuat dan tidak bisa dipermainkan. Terlebih Hina Kudo. Dia adalah karakter yang anggun dan pandai membaca situasi. Keren deh pokoknya.
Sebenarnya, karakter dalam drama ini tuh banyaaaaak banget. Pasalnya, karena drama ini tentang perjuangan, banyak karakter pendukung yang juga mencuri perhatian penonton. Dan, itulah yang sangat aku sukai dari drama ini.
Nggak hanya karakter-karakter utama yang perlu diberikan standing ovation. Tetapi, karakter pendukung seperti Im Gwan Soo, si interpreter Bahasa Inggris yang bekerja di Kedutaan Amerika, lalu Kyle Moore, mayor angkatan laut AS temannya Yu-Jin, lalu Jang Seung Goo, masih banyak lagi yang nggak bisa aku sebutin satu-satu. Mereka semua nggak hanya muncul sebagai pelengkap, tetapi kehadiran mereka juga sangat penting dalam cerita. Kalau tidak ada mereka, pemeran utama nggak akan bisa melaksanakan misi-misinya. Dan kita tidak akan terhibur dengan gelagat komedik karakter-karakter ini, haha.
Bahkan, aku merasa standing ovation juga harus diberikan untuk para pemeran antagonis disini, seperti Lee Wan Ik, dan Takashi Mori. Duh, dua karakter itu benar-benar berhasil membuatku dan adikku gemas. Dan tentu saja, aktor-aktor yang memerankan karakter antagonis lainnya (yang mayoritas tentu saja para pasukan Jepang), mereka benar-benar jahat dan kejam. Sampai-sampai membuatku merasa bahwa aku akan ikut-ikutan membenci Jepang seperti Korea membenci Jepang. Duh.
Setting
Drama ini tuh memiliki kualitas film, sama bagusnya dengan drama Goblin yang juga ditulis oleh Kim Eun Sook, jadi menurutku setting pengambilan gambarnya tuh udah the best banget. Banyak momen-momen iconic seperti slow motion yang digunakan dengan sangat tepat dan baik, jadi kesannya nggak berlebihan.
Video di bawah ini adalah beberapa adegan yang aku suka. Padahal masih ada video lainnya, tapi banyak video yang di blok untuk Indonesia.
Video di atas adalah pertemuan pertama Ae Sin dan Yu Jin.
Video ini kalau nggak salah pertemuan pertama Yu-Jin, Deung-Mae, dengan Hee-Seong.
Kalau nggak salah, ini pertama kali Yu-Jin dan Deung-Mae tahu kalau Hee-Seong adalah tunangan Ae-Sin, wkwk. Lihat tatapan membunuhnya.. wkwk.
Alih-alih menjadi musuh, mereka bertiga malah jadi teman, haha. Tiga orang yang suka sama Ae-Sin. Momen mereka bertiga selalu terasa lucu, soalnya karakter mereka bertiga benar-benar beda. Yang satu menakutkan, yang satu pandai tapi santai layaknya orang Barat, dan yang satu polos banget.
Sebenarnya ada beberapa adegan lagi yang aku suka, tapi aku belum nemu clip nya di Youtube. Aku sangat suka adegan Ae-Sin yang sedang menghalangi Goo Deung-Mae di pelabuhan. Ae-Sin dengan pakaian serba hitamnya meloncat dari atap ke atap, dan Deung-Mae dari bawah mengikutinya dengan berlari layaknya seorang ninja. Keren banget.
Lalu, soundtrack! Ya, soundtrack! Semua lagu pengisi drama ini tuh bagus-bagus banget. Dan lagunya pas dengan latar belakang waktu dan adegan-adegan dalam drama. Mungkin kalau nggak nonton dramanya, lagu ini akan terkesan biasa. Soalnya lagu ini bakal ngena banget kalau kalian nonton dramanya. Aku suka semua lagunya, tapi yang paling paling membekas untukku tuh ...
1. Lee Suhyun (Akdong Musician) - 소리 (Sori)
2. Park Hyo Shin - 그 날 (The Day)
Overall Review
✩✩✩✩✩
5/5 tanpa ragu
Plot yang kompleks, namun masih menghibur. Karakter yang bisa membuat perasaan menggebu-gebu. Setting gambar dengan kualitas film layar lebar. Lagu dan musik yang pas dengan latar belakang waktu dan adegan. Bertabur bintang, tapi nggak abal-abal. Ending yang bisa bikin perasaan kamu kosong, seakan kamu ikut berjuang bersama karakter-karakter dalam drama.
Aku merekomendasikan drama ini untuk kamu yang mencari drama sejarah yang keseluruhan ceritanya anti mainstream.
Dan, jika review ini bisa membujukmu untuk menonton. Aku hanya ingin mengatakan.. kau harus siap kehilangan. Episode terakhir benar-benar mengaduk-aduk perasaan.
Halo! Aku kembali!
Kali ini, aku akan mereview sebuah drama yang menurutku sangat menarik. Drama ini memiliki genre romance dan crime. Judulnya, 악의 꽃 (Agui Kkot), yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Flower of Evil.
Judul: Flower of Evil / 악의 꽃 (Agui Kkot)
Episode: 16
Director: Kim Cheol-Kyu
Writer: Yoo Jung-Hee
Pemeran:
Lee Joon-Gi, Moon Chae-Won, Jang Hee-Jin, Seo Hyun Woo, Kim Ji Hoon, etc
Sinopsis
Drama ini menceritakan tentang seorang detektif yang tidak tahu bahwa suaminya adalah tersangka sebuah kasus pembunuhan berantai.
Cha Ji Won (Moon Chae Won), seorang wanita penuh semangat dan energi positif, bertemu Baek Hee-Sung (Lee Joon-Gi) si pendatang baru di kota kecil tempatnya tinggal. Hubungan mereka terus berlanjut sampai ke pelaminan. Memiliki suami yang sangat baik dan penyayang, dan menjadi seorang ibu sekaligus bekerja sebagai seorang detektif, membuat hidup Cha Ji Won terkesan sempurna.
Sampai suatu saat, sebuah pembunuhan terjadi dan membuat nama Do Hyun Su (Lee Joon-Gi), anak seorang psikopat yang diduga sebagai tersangka kasus pembunuhan beberapa tahun silam tersorot kembali. Cha Ji Won tidak menyadari bahwa sosok itu ada di dekatnya.
Terjebak di antara dua pilihan, menangkap atau melindungi suaminya, Cha Ji Won berusaha mengungkap kebenaran sesungguhnya.
Review
(hati-hati spoiler)
Plot
Sebelum drama ini tayang, saat aku mendengar bahwa drama ini adalah drama tentang seorang psikopat yang menikah dengan seorang detektif, pertanyaan pertama yang muncul di benakku adalah ‘kok bisa?’.
Pasalnya, sinopsisnya membuatku penasaran tentang kenapa si detektif bisa dibohongi seperti itu, dan apa motif si psikopat menikahi si detektif. Terlebih, ‘seorang psikopat’ sebagai pemeran utama adalah hal yang jarang. Apakah dia benar psikopat atau akan ada kisah sedih dibalik masa lalunya yang mengungkap bahwa karakter tersebut bukan psikopat. Semua itu pun membuatku penasaran dan menantikan kehadiran drama ini.
Setelah menonton drama ini, pemeran utama kita bukanlah murni seorang psikopat. Ia hanyalah anak dari seorang psikopat yang diperlakukan seperti anak yang kerasukan roh jahat di desanya, padahal ia hanya tidak mampu mengungkapkan emosinya, atau bisa dibilang ia mengidap Alexithymia.
Secara keseluruhan, plot drama ini cukup menarik. Alur berjalan maju dan mundur dengan adanya flashback masa lalu para karakter kita. Sejujurnya ada beberapa plot yang menurutku mudah tertebak, seperti Do Hyun Su hanyalah manusia tidak bersalah yang dituduh sebagai pembunuh, tetapi banyak juga plot yang memungkinkan penonton menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Terlebih di beberapa bagian terakhir, seiring intensitas konfliknya meningkat, penonton dibuat greget apakah akhirnya akan bahagia, atau sebaliknya.
Bagian favoritku mungkin ada di episode 7 atau 8, entahlah agak lupa. Saat itu, Cha Ji Won yang mulai curiga, mengikuti suaminya, Baek Hee-Sung/ Do Hyun-Su, yang sedang pergi menemui Do Hae-Su, kakak perempuan yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak ditemuinya.
Saat itu, Hyun-Su sedang bercerita pada Hae-Su bahwa ia memiliki istri dan anak perempuan. Hae-Su yang merasakan bahwa Hyun-Su sudah berubah, bertanya..
“Apa kamu mencintainya?,” tanya Do Hae-Su.
Hyun-Su yang tidak mampu mengungkapkan emosi, meyakini dirinya bahwa ia tidak pernah mencintai istrinya.
“Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti itu,” ucap Do Hyun-Su, di dengar oleh istrinya yang sedang menguping. BOOM!
Menurutku adegan itu penuh dengan emosi yang tersirat. Aku membayangkan bagaimana perasaan Cha Ji Won yang mendengar orang yang selama ini dicintainya ternyata tidak pernah mencintainya. Woh!
Karakter
Dalam drama ini,
kita memiliki dua karakter utama, yakni Do Hyun Su yang menyamar sebagai Baek
Hee Seung, dan Cha Ji Won. Kedua karakter diperankan dengan sangat baik dan oh my god! Di dua episode terakhir,
kedua karakter ini benar-benar memberikan klimaks cerita dengan sangat baik.
Emosi yang mereka salurkan melalui kemampuan acting mereka benar-benar tersampaikan dengan sempurna.
Lalu, aku benar-benar merasa puas dengan acting Lee Joon-Gi dan Kim Ji-Hoon dalam drama ini, haha.
Lee Joon-Gi, aktor yang berperan sebagai Do Hyun-Su sangat mampu memvisualisasikan karakternya yang kesulitan mengekspresikan perasaan. Dari raut wajah yang datar, kengerian yang ditimbulkan ketika ia bertingkah ekstrem, dan rasa frustasinya ketika melindungi sosok/ sesuatu yang berharga untuknya, semuanya benar-benar membuatku sebagai penonton ternganga dan kagum.
Tak hanya Lee Joon-Gi, aktor Kim Ji-Hoon juga mampu mencuri perhatian penonton walau tidak muncul di seluruh episode. Pasalnya, kemunculan antagonis utama kita ini benar-benar membuat penonton gregetan!
Aktris Jang Hee-Jin yang memerankan Do Hae-Su juga menarik perhatianku walau sebenarnya karakternya tidak digambarkan sebagai sosok yang kuat atau sangat berpengaruh, bahkan malah cenderung lemah dan merepotkan. Tetapi, ada satu adegan yang sangat aku suka, ketika ia melindungi Baek Eun-Ha, anak Do Hyun-Su & Cha Ji Won, ketika the real villain muncul dan membahayakan nyawa mereka. Entahlah, aku merasa adegan itu super brave, sangat berani.
Setting
Aku sangat sangat suka dengan setting suara dan musiknya. Musik-musiknya benar-benar mendukung segala jenis emosi dan suasana dalam drama. Dari adegan menegangkan, sampai bagian romantisnya.
Hal tersebut yang membuatku benar-benar menyukai adegan yang akhirnya menjadi adegan favoritku. Ketika Cha Ji Won mendengar pernyataan suaminya yang menyakitkan, musiknya tiba-tiba disenyapkan dan hanya meninggalkan perasaan dan emosi yang tersirat kala itu.
Oh! Dan satu hal yang sangat aku suka dari karakter-karakter dalam drama ini, aktor aktris versi muda dan versi dewasanya dipilih yang mirip, terlebih Do Hyun-Su muda yang diperankan oleh Park Hyun Joon, dan Do Hyun-Su dewasa yang diperankan oleh Lee Joon-Gi wajahnya benar-benar mirip. Salut sekali dengan tim casting aktornya~
Overall Review
☆☆☆☆
4 bintang
Perpaduan antara plot yang dikembangkan dengan baik, acting para aktor dan aktris yang superb! Dan penataan musik yang sangat baik. Rasanya ingin memberikan bintang 5, tetapi ada beberapa bagian dalam plot yang terkesan klise untukku, jadi 4 bintang.
Drama ini sudah tamat bulan September 2020, kalian yang ingin menontonnya bisa menonton di aplikasi seperti VIU, WeTV, Vidio, dan sebagainya.
Sampai jumpa di review selanjutnya!
![]() |
| It's Okay To Not Be Okay (2020) |
Halo
teman-teman, bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga baik-baik saja ya. Hari
ini aku akan mereview drama Korea hits yang belum lama tamat, yakni It’s Okat
Not To Be Okay.
Judul:
It’s Okay Not To Be Okay / 사이코지만 괜찮아 / Psycho, But It’s Okay
Episode: 16
Direktor: Park Shin Woo
Writer: Jo-Yong
Pemeran: Kim Soo Hyun, Seo Yea Ji, Oh Jung Se, dll
Episode: 16
Direktor: Park Shin Woo
Writer: Jo-Yong
Pemeran: Kim Soo Hyun, Seo Yea Ji, Oh Jung Se, dll
Drama
ini mengangkat isu kesehatan mental sebagai dasar ceritanya. Menceritakan Moon
Gang Tae (Kim Soo-Hyun) yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit jiwa. Di
luar jam kerjanya, ia juga memiliki seorang kakak yang memiliki keterbelakangan
mental, Sang Tae (Oh Jung Se). Setelah kematian ibunya, Gang Tae dan Sang Tae
harus hidup dengan terus melarikan diri dari masa lalunya.
Di samping itu, Go Moon Young (Seo Yea-Ji) adalah penulis cerita anak yang terkenal. Sikapnya kasar dan bertindak semaunya. Pertemuannya dengan Gang Tae menciptakan cerita yang menghangatkan dan penuh kejutan.
Review
Plot
Awalnya aku ragu untuk menonton drama ini. Isu kesehatan mental yang diangkatnya membuatku berpikir bahwa drama ini akan membosankan dan terlalu mellow. Tetapi setelah mencoba menontonnya, aku berbicara pada adikku, “Ceritanya adem ya”. Dan adikku berkata, “Iya, ini kan drama healing”.
Walau membahas mengenai kesehatan mental yang agak berat, tetapi plot dikemas dengan baik. Banyak hal-hal lucu yang membuat drama ini tidak membosankan dan cenderung menyejukkan perasaan. Karakter Go Moon Young disini adalah penulis cerita anak, dan nuansa yang diberikan dalam cerita ini cenderung seperti dark fairy tale. Dark bukan berarti filmnya berat banget. Dark disini memiliki maksud bahwa drama ini memiliki nilai tersirat yang tak se-ringan penyampaiannya.
Selama berjalannya cerita, penonton juga disuguhi beberapa twist yang cukup mencengangkan. Seperti bagaimana masa lalu Go Moon Young, dan bagaimana masa lalu Gang Tae serta Sang Tae yang mengharuskan mereka hidup berlari dan bersembunyi dari sesuatu yang sebenarnya belum tampak.
Karakter
Setiap karakter disini memiliki sifat dan sikap yang berbeda. Gang Tae yang cenderung menahan segala emosinya, Moon Young yang cenderung meledak-ledak, serta Sang Tae yang tak tertebak. Hal yang sangat membuatku kagum dengan karakter disini adalah chemistry setiap karakter tuh sangat mantap.
Aku sangat salut dengan acting Seo Yea Ji yang membuat Go Mun Young menjadi dirinya. Begitu juga dengan Kim Soo Hyun dan Oh Jung Se yang memerankan Gang Tae dan Sang Tae hingga membuatku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau karakter-karakter tersebut diperankan oleh orang lain.
Karakter
pendukung drama ini juga memiliki karakter yang unik-unik. Dan aku suka
karakter para pasien dan suster di rumah sakit jiwa OK.
Setting
Kalau kalian sudah menonton drama ini, bagian stop motion yang ada di awal episode adalah bagian favoritku. Boneka karakter Gang Tae dan Moon Young sangat unik dan lucu, hingga membuatku sangat ingin memiliki funko seperti itu. Terlebih cara mereka melakukan produksinya benar-benar bagus! Membuatku semakin kagum dengan drama ini.
Lalu, tak jarang juga efek CGI diperlihatkan di drama ini, khususnya adalah rusa dan rumah Go Mun Young. Ini keren banget sih. Aku sering menonton video behind the scene drama ini dan most of it are mind-blowing.
Tim produksi juga menunjukkan dedikasi mereka yang sangat tinggi melalui pakaian setiap karakter yang memang dirancang khusus sesuai dengan kepribadian karakter-karakter drama ini.
Selain itu, drama ini juga memiliki banyak icon-icon yang khas dan menarik, seperti buku cerita anak Go Mun Young, boneka Mang Tae, dan lain sebagainya. Hal-hal ini membuat drama ini benar-benar berbeda dari drama-drama yang sudah ada.
Overall Review
☆☆☆☆☆
5 bintang.
Perpaduan
antara plot, acting, dan setting yang sangat sempurna. Sangat menghibur dan banyak
nilai yang bisa penonton ambil dari drama ini. Drama ini bukan drama yang
digunakan untuk berdebat, tetapi drama ini harus direnungkan. Kalian yang
tertarik menontonnya, bisa menonton ini di Netflix. :)
![]() |
| Blacklist Cover |
Halo teman-teman, hari ini aku
kembali dan akan memberikan review mengenai drama Thailand yang tayang bulan
Oktober tahun lalu, Blacklist.
Episode: 12
Direktor: Dan Worrawech Danuwong
Pemeran: Nanon Korapat, Chimon Wachirawit, Ohm Pawat, Drake Sattabut, First Kanaphan, Frank Thanatsaran, Prim Chanikarn, Love Pattranite, View Benyapa, Prigkhing Sureeyaret, Ploy Patchatorn, Ploy Kanyarat, dan lain lain.
Drama ini menceritakan tentang Traffic, seorang siswa yang berhasil masuk ke SMA Akeanan, sekolah yang memiliki citra yang sangat bagus dalam berbagai aspek, sekolah favorit gitu. Anak biasa masuk ke SMA favorit seharusnya mengutamakan belajar dan prestasi. Namun tidak dengan Traffic. Dia masuk ke SMA tersebut dengan satu tujuan utama, yakni mencari kakak perempuannya yang tiba-tiba menghilang di sekolah tersebut, namun tak sekalipun sekolah tersebut menggubris hilangnya kakak perempuan Traffic.
Selagi mencari keberadaan kakaknya, Traffic menemukan bahwa sekolah tersebut menyimpan rahasia yang lebih besar dari yang ia pikirkan.
Review
Plot
Setelah cukup lama menyelami dunia drama, menurutku drama dengan tema sekolah memiliki daya tarik khusus, sehingga banyak disenangi oleh para penikmat drama baik kalangan usia remaja dan dewasa. Biasanya, konflik yang diangkat dalam drama bertema sekolahan cenderung relatable dengan problematika atau struggle yang dihadapi anak sekolah seperti dalam hal pembelajaran dan hubungan sosial dengan teman sebaya. Lalu, dengan berhiaskan bintang-bintang muda yang menimbulkan kesan fresh dan anak muda banget biasanya akan membuat penonton betah menonton drama tersebut.
Tapi, walaupun drama Blacklist ini dibintangi oleh aktor-aktris muda yang menarik, menurutku plot ceritanya terlalu rumit untuk latar belakang karakter yang masih seusia anak SMA.
If i was younger, mungkin aku akan mengatakan ceritanya sangat menarik, soalnya karakter utamanya tuh anak SMA. Tetapi, karena mungkin aku sudah agak tua, jadi ketika menontonnya terkesan sangat unrealistik. Terlebih peran guru disini sebagai orang dewasa tuh kurang bagus. Satu sekolah hanya memiliki 3 figur guru yang menurutku karakternya tidak tegas dan bukan guru banget.
Drama ini mengambil genre crimes, misteri, dan romansa. Konflik tentang crime yang diangkat dalam drama ini adalah penyalahgunaan obat terlarang, senjata berbahaya, dan organisasi ilegal serta tentang mafia gitu. Yang membuatku merasa cerita ini terlalu unrealistik adalah semua unsur crime tersebut dilakoni oleh anak SMA yang menurutku terlalu rumit dan terlalu besar untuk seusia mereka yang seharusnya mengalami konflik yang lebih wajar.
Penonton juga disuguhi genre romance yang juga menurutku adalah perpaduan yang kurang pas dengan crimes dalam drama ini. Di tengah-tengah situasi serius, tiba-tiba disuguhi adegan yang seharusnya.... romantis, jadi terkesan terlalu drama, dan memang agak awkward untuk seusia SMA.
Masa sekolah seharusnya menjadi masa-masa yang menyenangkan dan lovey dovey gemas-gemas gitu, tapi secara keseluruhan plot drama ini agak kurang pas untukku.
Karakter
Genre crimes yang diangkat dalam drama ini mungkin membuat drama ini terkesan memusingkan, tapi tetap saja aku merasa terhibur ketika menontonnya, karena karakter para aktor yang memiliki trait kepribadian yang berbeda. Nama-nama karakternya pun sangat menghibur, seperti Traffic, Highlight, Carrot (Wortel), Melon, Orange (Jeruk), Bacon, Cupcake, dan lain-lain. Aku mengagumi si penulis ketika memiliki nama-nama mereka, simpel dan walau awalnya terkesan aneh, tapi itu jadi hiburan tersendiri untukku, haha.
Chemistry karakter dalam drama ini pun aku suka. Aktor-aktor yang berperan sebagai siswa satu geng disini memiliki chemistry yang bagus banget. Mungkin hal ini juga dipengaruhi oleh para aktor dan aktris drama ini berada di bawah naungan agensi yang sama, jadi chemistry nya nggak perlu diragukan lagi karena mereka memang aslinya sudah saling mengenal dan berteman.
Setting
Aku tidak memiliki penilaian khusus mengenai location dan pengambilan suatu adegannya, karena aku menikmati ketika menonton. Tetapi satu hal yang agak sedikit mengganggu untukku adalah penataan dan transisi adegan serta musik menegangkan ke romantis.
Musiknya sendiri sebenarnya enak, hanya saja penataan dan transisi adegan dan musik yang kurang oke membuat emosi yang ada dalam satu adegan tuh aneh. Contohnya ketika sedang adegan menegangkan, musiknya menegangkan nih, tapi ketika di dalam adegan menegangkan tersebut ada romance yang menelusup, tiba-tiba musik romantis muncul, dan menurutku membuat mood jadi drop gitu.
Overall Review
☆☆☆
3/5
bintang
Walaupun penataan musik dan beberapa adegan di drama ini kadang mengganggu, aku menikmati drama ini. Aktor dan aktrisnya membuatku betah menonton. Lalu chemistry mereka pun menghibur banget. Hubungan pertemanan mereka lucu. Konfliknya walau menurutku berat untuk usia SMA, tapi untukku terkesan agak baru, jadi aku menghargai plot ini.
Note.
Kalian
yang tertarik menontonnya, bisa tonton di channel resminya di Youtube.
Adegan favoritku adalah episode 7 part 1/4 menit ke 4:50. Kalian tidak perlu memahaminya, haha.
Pernahkah kalian menonton drama, lalu kalian suka, tapi dalam waktu yang sama, kalian juga membencinya?
Episode: 16 episode
Direktor: Baek Sang Hoon
Penulis: Kim Eun Sook
Genre: Fantasy, Romance, Parallel Universe
Sinopsis
The King:
Eternal Monarch adalah drama Korea yang menceritakan Lee Gon, seorang raja yang
memimpin Kingdom of Korea (Kerajaan Korea) yang berusaha menutup pintu ke dunia paralel yang terbuka setelah Manpasikjeok, seruling legendaris
kerajaan yang memiliki kekuatan magis, terbelah dua karena pengkhianatan yang
dilakukan oleh Lee Rim, pamannya.
Review
Sesuka-sukanya
aku dengan genre fantasi, aku seringkali menghindari konsep Parallel Universe dan Parallel Time. Sesuatu yang bertemakan Parallel cenderung membingungkan dan
terlalu ngawang sehingga sulit diproses pikiranku.
Alasan
utama aku menonton drama ini adalah karena Kim Eun Sook, si penulis, adalah
sosok dibalik layar drama-drama menarik seperti Goblin, The Heirs, Descendants
of The Sun, Secret Garden, dan lain sebagainya. Selain itu, Kim Eun Sook juga seringkali
mengambil genre fantasi, genre favoritku, sehingga aku cukup menantikan kehadiran
The King: Eternal Monarch garapan Kim Eun Sook ini. –tidak, aku tidak
menontonnya karena aktornya, bahkan aku tidak pernah menonton BBF.
Saat drama
ini on-going aku menulis sedikit
komentarku ketika menonton drama ini di ponselku, jadi aku akan menuangkannya
dalam review kali ini.
Sejak awal, aku sudah menduga plot dengan konsep Parallel Universe ini akan ngebingungin ke belakangnya. Nggak tertebak sih alurnya akan seperti apa, tapi konsep seperti ini membuat pengalaman menontonku nggak semenarik drama lainnya, terlalu banyak kemungkinan yang membuatku malas berteori. Mungkin drama ini membuat penonton jadi berpikir keras, makanya aku seringkali berpikir, ‘yaudah lah liat aja yang si penulis mau bikin gimana’. Akhirnya, nggak ada yang benar-benar bisa aku komentari. Tapi aku berusaha keras untuk menulis review ini, haha.
Di empat
episode pertama, aku menotis banyak setting
adegan yang mirip-mirip dengan drama Kim Eun Sook sebelumnya, seperti The Heirs
dan Goblin. Iya, aku paham, Lee Min Ho dan Kim Go Eun bermain di The Heirs dan
Goblin, jadi wajar saja mereka digaet lagi untuk main drama Kim Eun Sook lalu
ada persamaannya. Tetapi, secara pribadi,
aku merasa... kurang baru. Rasanya seperti.. i have a pen, i have an apple, ugh! Apple-pen. Kayak Kim Tan ketemu
sama Eun Tak aja gitu, walau sebenarnya karakter mereka berbeda, tapi adegannya
selalu mengingatkanku.
Sebenarnya
aku juga kurang suka dengan romance
yang diselipkan di drama ini. Secara pribadi, aku berpikiran bahwa hubungan
antara Lee Gon dan Tae Eul terlalu cepat, i
mean nggak ada tahap pedekate
yang meyakinkanku (sebagai seorang penonton) bahwa mereka saling mencintai
hingga bisa mengorbankan nyawa mereka.
Acting Lee Min Ho dan Kim Go Eun itu bagus
banget. Mereka bisa memvisualisasikan emosi yang diharapkan pada setiap adegan. Apalagi episode 11 &
12 ketika Lee Gon dan para pengawalnya naik kuda buat menyelamatkan Calon Ratu
mereka. Bahhhh itu feel-nya dapet
banget. Terlebih adegan itu tuh kesannya orisinil The King: Eternal Monarch
banget, maksudku nggak disama-samain sama adegan keren dan romantis dari
drama-drama Kim Eun Sook sebelumnya gitu.
Walaupun
begitu, aku menyayangkan transisi emosi dari satu adegan romantis ke adegan romantis
lainnya, menurutku kesannya perkembangan hubungan mereka banyak yang
ke-skip-skip gitu, jadi kayak cepet banget mereka jatuh cinta sampe bucin
begitu.
Karakter
yang paling menghiburku dalam drama ini adalah Jo Yong & Jo Eun Seop. Woo
Do Hwan, aktor yang memerankan dua karakter itu benar-benar bisa menunjukkan
dua karakter yang berbeda, sosok yang keren dan tampan, serta sosok yang lucu
dan menyenangkan (dan juga tampan, tentu saja). Adegan-adegan yang diperolehnya
selalu menghibur. Uwu uri Unbreakable Sword.
Setting
Teknik pengambilan
gambar yang digunakan drama ini oke kok, kualitas film layar lebar, dan
angle-nya bagus. Tapi, terkadang aku merasa mereka terlalu sibuk menunjukkan
berbagai angle, sehingga menurutku banyak angle yang unnecessary.
Product
Placementnya terlalu kentara. Wow, i mean
untuk ukuran drama Korea iklannya terlalu mencolok. Sebagai orang Indonesia,
tentu kita sudah biasa disuguhkan iklan secara terang-terangan di sebuah
sinetron. Tapi, karena ini adalah drama Korea, aku nggak tahu apakah ini adalah
sebuah kemajuan atau kemunduran. Yang pasti, secara pribadi, aku merasa
terganggu.
Editan
langit pink dalam gerbang dunia
paralelnya kurang canggih. Sampai episode 7, aku masih terganggu dengan editan
itu. Kayak bukan Korea banget produksinya. Malah produksi yang seperti itu kayak
menimbulkan kesan mereka hanya memanfaatkan ketenaran Lee Min Ho dan Kim Go Eun
sebagai aktor.
Terlalu
banyak adegan diam dan tatap-tatapan. Seharusnya adegan ini menjadi adegan
romantis yang penuh dengan perasaan, tapi aku merasa ini adalah adegan yang
bertele-tele, karena ya itu, aku merasa progress mereka untuk jatuh cinta
terlalu cepat dan tidak masuk akal perasaan.
OST
Wah,
bagiku ini nilai plus dari drama ini sih. Soundtracknya dinyanyikan oleh
penyanyi-penyanyi yang sangat bagus, seperti Zion T, Hwasa, Hwang Chi Yeol,
Wendy, Zico, dan lain sebagainya. Lagunya juga banyak yang enak-enak. Tapi
favoritku mungkin lagu Maze yang dinyanyikan Young Zoo, musiknya pas aja untuk
latar belakang kerajaan modern kayak Kingdom of Korea. Selain itu, lagu My Love
yang dibawakan oleh Gummy juga pas banget buat adegan-adegan yang menguras
banyak emosi, aku suka banget. Oh, You Are My Beginning and Last yang dibawakan
Lim Han Byul dan Kim Jae Hwan juga favoritku, pasalnya aku suka jenis musiknya
yang ballad dan vokalisasinya yang punya power banget.
Overall Review
☆☆☆
3 bintang
Satu
bintang untuk karakter/aktornya, satu bintang untuk soundtracknya, setengah
bintang untuk plotnya, dan setengah bintang untuk setting dramanya.
Aku suka
drama ini, tapi aku juga membencinya. Banyak yang aku nggak suka di drama ini,
tapi aku suka drama ini, episode 11 & 12 benar-benar meninggalkan kesan
yang sangat baik. Soundtracknya juga bagus banget.
Aku nggak merekomendasikan drama ini untuk siapa-siapa, selama kamu siap diajak mikir dengan plot yang terlalu membingungkan, silahkan tonton drama ini.
Sebuah Pertanyaan Yang Akan Membingungkan Tapi Kalau Kalian Ingin Menimpali, Silahkan Banget.
Plot drama ini masih meninggalkan banyak pertanyaan tak kasat mata, khususnya episode terakhir. Lee Gon kembali ke malam pengkhianatan untuk menghentikan Lee Rim, bagaimana ia yakin bahwa masa lalu itu adalah masa lalu miliknya dari banyaknya universe yang memiliki masa lalu yang serupa? Lee Gon kecil akhirnya terselamatkan tanpa mengenal Tae Eul, tapi kini seruling itu sepenuhnya milik Lee Gon.
Dan apa faedahnya manpasikjeok me-reset dunia, tapi menyisakan memori Lee Gon dan Tae Eul? Bukankah lebih romantis kalau mereka dipertemukan oleh takdir yang berbeda? Maksudku, lembaran baru yang berbeda. Seruling itu sudah sepenuhnya milik Lee Gon, tinggal takdir yang memang menggiringnya ke Republik untuk bertemu dengan Tae Eul.
Tapi, penulis membuat mereka berakhir dengan status berpacaran, dan malam mingguannya menjelajah berbagai universe yang berbeda. Penjelajah universe kan abadi nih ceritanya, mereka akan begitu terus gitu? Apakah ini bentuk kebucinan mereka? Menyebalkan.
![]() |
| 365: Repeat The Year |
Judul: 365: Repeat The Year
Episode: 12 episode
Direktor: Kim Kyung Hee
Penulis: Kurumi Inui (novel), Lee Seo Yoon, Lee Soo Kyung
Genre: Fantasy, Mystery, Crime
Halo, Greenshe kembali dan kali ini ingin mereview sebuah drama bergenre fantasi dan misteri, yakni 365: Repeat The Year. Akhir-akhir ini banyak drama yang menarik untuk ditonton, tetapi akhir-akhir ini juga aku merasa malas untuk mengikuti semua drama bagus itu, mungkin karena sudah terlalu bosan di rumah dan butuh jalan-jalan, haha.
Drama ini adalah drama yang diadaptasi dari novel berjudul Repeat karya Kurumi Inui--jadi ingin baca novelnya. Drama ini juga ada versi Jepangnya, judulnya Wheel of Fortune. Tapi kali ini aku akan review versi Korea tentu saja. Episode drama ini tergolong sedikit, yakni hanya 12 episode.
Sinopsis
Drama ini menceritakan tentang 10 orang yang secara random dikumpulkan di tahun 2020 oleh perempuan bernama Lee Shin. Mereka ditawarkan kesempatan untuk melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, tepatnya satu tahun sebelumnya--2019, untuk me-reset kembali kehidupan mereka.
Hero kita adalah Ji Hyeong Ju, seorang detektif yang kehilangan partner kerjanya di tahun 2019. Selain itu, ia adalah penggemar berat webtoon berjudul Hidden Killer yang ditulis oleh Shin Ga Hyeon, heroine kita yang mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga kakinya lumpuh.
Setelah kembali ke tahun 2019, 10 orang tersebut berhasil mengubah kehidupan mereka. Namun, kejadian-kejadian aneh mulai muncul. Kematian seolah mengejar mereka. Atau mungkin..... seseorang mengincar mereka.
Review
Plot
Fantasi selalu jadi genre favoritku, walaupun banyak juga drama, film, bahkan buku fantasi yang mengecewakan karena world-building yang kurang oke. Selama ini, aku mengkategorikan cerita fantasi menjadi totally fantasy, fantasi yang dimana si penulis menciptakan dunia baru seperti Harry Potter, Percy Jackson, Lord of The Rings, dan Game of Thrones. Lalu, ada partly fantasy, cerita yang memasukkan unsur fantasi sebagai bagian kecil dari dunia nyata, seperti drama Goblin, My Love from The Star, dan juga drama ini.
Aku suka bagaimana drama 365: Repeat The Year ini dieksekusi dengan baik sampai dari awal sampai akhir. Setiap episode mengandung misteri yang membuat penonton berpikir, bahkan kebingungan. Walaupun begitu, aku dan adik-adikku dibuat penasaran dengan setiap lanjutannya.
Secara keseluruhan, plot ceritanya nggak berat, bahkan ada beberapa bagian yang mungkin tertebak, tapi karena terlalu banyak kemungkinan, jadi penonton akan kebingungan menentukan siapa penjahat yang sebenarnya dan seperti apa motifnya. Dan ketika semuanya terungkap, aku merasa puas.
Saat menonton dan menebak-nebak alur cerita dan penjahatnya, aku dan adikku bercanda dan teringat suatu dialog dari sebuah film Indonesia,
"Siapa orang yang tidak pernah kita duga bakal nulis surat kaleng? Ayo kita sebutkan bareng: Ibu Kantin," - Bayu, Marmut Merah Jambu.
Nggak begitu nyambung sama drama ini, sih, tapi guyonku dengan adikku itu kurang lebih adalah spoiler, hahaha.
Karakter
Dari banyaknya karekter dalam drama ini, para resetters adalah karakter yang paling ter-spotlight. Setiap karakter punya latar belakang berbeda dan alasan mereka tersendiri ketika memilih untuk melakukan kembali ke masa lalu. Tetapi kebanyakan dari mereka menyembunyikan tujuan utama mereka. Dan ketika alasan-alasan tersebut terungkap, aku suka emosi dan perasaan yang dibawakan para aktor, khususnya emosi para karakter ketika alasan karakter bernama Kim Se Rin terungkap, dia sangat unbelievably crazy. Bahkan karakter kecil bernama Choi Young Woong membuatku merasa simpatik, ck sungguh malang.
OST
Secara pribadi, aku suka sekali lagu soundtrack yang dibawakan oleh Say'Z berjudul Into My Life. Musik dan liriknya sangat menggambarkan isi drama ini, tentang keinginan seseorang untuk mengulang kehidupannya, dan bertanya-tanya apakah hidupnya akan berbeda dari saat ini kalau saja ia memutar ulang waktu. Selain itu, lagu yang lain juga sama bagusnya, musiknya passs banget sama dramanya. Feelingnya pas banget.
Overall Review
☆☆☆☆
4/5 star
Mungkin beberapa dari kalian sudah nggak asing sama wajah-wajah karakter utama disini, kalau kamu salah satu penggemarnya, drama ini bagus banget untuk kamu tonton, pasalnya perkembangan karakter khususnya Ji Hyeong Ju disini tuh bagus. Dan kalau kamu penikmat cerita fantasi dan misteri, drama ini pas banget buat mengisi harimu disaat stay at home ini.
Suka cerita dengan genre time-travel?
I'll bring you to this Tunnel. Let's go!
![]() |
| Tunnel |
Judul: Tunnel / 터널
Episode: 16 episode
Pemeran: Choi Jin Hyuk, Yoon Hyun Min, Lee Yoo Young, dll.
Direktor: Shin Yong Whee, Nam Ki Hoon.
Penulis: Lee Eun Mi.
Genre: Crime, Fantasy, Time Travel
Sinopsis
Di tahun 1986, Detektif Park Gwang Ho (Choi Jin Hyuk) sedang berusaha keras menangkap seorang pembunuh berantai yang meresahkan warga. Dia mengejar si serial killer dan berlari melalui sebuah terowongan. Setelah keluar dari ujung lain terowongan tersebut, detektif Park Gwang Ho menemukan bahwa dirinya berada di tahun 2017. Setelah 30 tahun pun, pembunuh berantai tersebut mulai menjalankan aksinya kembali. Bersama dengan detektif Kim Sun Jae (Yoon Hyun Min) dan seorang profesor Psikologi Kriminal, Shin Jae Yi (Lee Yoo Young), detektif Park Kwang Ho berusaha menangkap penjahat tersebut di tahun 2017.
Review
Aku selesai menonton film ini tahun 2020. Padahal ketika drama ini tayang di Korea Selatan, aku sudah mencoba menonton dua episode awalnya, tetapi entah mengapa, mungkin aku sedang bosan dengan drama Korea saat itu, jadi aku baru melanjutkannya lagi di awal tahun 2020.
Plot
Awalnya membosankan karena plotnya yang terkesan agak slow. Tapi selanjutnya oke. Kupikir drama ini akan sangat serius karena memiliki genre crime, jadi aku tidak berharap adanya bumbu-bumbu komedi di dalamnya. Tapi nyatanya, drama ini tidak seserius yang aku bayangkan. Ada beberapa adegan yang menurutku lucu dan menghibur sekali di tengah keseriusan dan ketegangan para pemeran utama dalam menjalankan aksinya.
Tapi, genre time travel sering kali agak tricky. Drama dengan genre ini sering bikin aku bertanya-tanya, kalau mengubah sesuatu yang ada di masa lalu, berarti kan mengubah masa depan, dong?. Dalam drama ini, Park Kwang Ho ke masa depan, dimana dia dinyatakan menghilang/ mati oleh kerabatnya. Kalau dia kembali ke masa lalu dan kembali hidup bersama keluarganya, seharusnya masa depan anaknya berubah, dong? Tapi, endingnya menurutku agak aneh, banyak yang lack, kentang gitu. Tapi, yah itulah keanehan drama fantasi, terlebih time travel. Ikuti saja maunya penulis.
Character
Chemistry antara Choi Jin Hyuk, Yoon Hyun Min, dan Lee Yoo Young sangat oke. Choi Jin Hyuk bisa memerankan sosok ayah untuk Lee Yoo Young, padahal situasinya Choi Jin Hyuk yang memerankan Park Kwang Ho itu masih muda, tetapi karena ia menjalankan time travel ke tahun 2017, putrinya sudah dewasa, sehingga bahkan terkesan lebih tua darinya. Tapi tuh Choi Jin Hyuk dan Lee Yoo Young bisa bertingkah seperti anak dan bapak, awkwardly cute.
Hubungan Park Kwang Ho dan hoobae-nya (junior) juga lucu. Kekhawatiran si junior, Jeon Sung Sik, terhadap seniornya mampu di visualisasikan dengan baik oleh aktor Jo Hee Bong. Aku sangat suka chemistry senior-junior ini, haha. Menghibur sekali.
Hubungan Park Kwang Ho dan hoobae-nya (junior) juga lucu. Kekhawatiran si junior, Jeon Sung Sik, terhadap seniornya mampu di visualisasikan dengan baik oleh aktor Jo Hee Bong. Aku sangat suka chemistry senior-junior ini, haha. Menghibur sekali.
Setting
Ketika Kwang Ho menjelajah waktu melalui terowongan, aku suka kemunculan cahaya putih yang menandakan perpindahan waktunya. Simpel, tapi keren. Aku suka sama editan yang nggak muluk muluk. Tone warna latar juga dibedakan antara masa lalu dan masa sekarang. Pada umumnya, masa lalu akan ditandakan dengan tone warm, sedangkan masa sekarang akan ditandakan dengan tone cold.
Musiknya tidak begitu menonjol, tetapi tetap bisa membuat penonton enjoy. Secara pribadi, soundtracknya belum ada yang menarik perhatianku, jadi aku menanggapinya biasa saja.
Musiknya tidak begitu menonjol, tetapi tetap bisa membuat penonton enjoy. Secara pribadi, soundtracknya belum ada yang menarik perhatianku, jadi aku menanggapinya biasa saja.
Overall Review
✩✩✩✩
I gave 4 stars for this drama.
Walau drama ini agak lambat di episode awal, tetapi untuk kamu bucin drama dengan genre time-travel, ini boleh dicoba. Apalagi kamu yang suka drama bergenre crime dan mistery, drama ini cocok banget.
About Me
Welcome to my little corner! I’m Lia, someone who finds joy in stories, whether through novels, dramas, movies, or my own writings. With a Green Tea Latte in hand, I explore different narratives and share my thoughts here.
Expect reviews, reflections, and a mix of personal musings. Most of my posts are in Bahasa Indonesia, but occasionally you’ll find entries in English or even a bit of Korean!
Stay tuned, and let's dive into stories together!
Old Reviews
-
►
2025
(4)
- ► Desember 2025 (2)
- ► Agustus 2025 (1)
-
►
2023
(3)
- ► September 2023 (2)
- ► Agustus 2023 (1)
-
►
2022
(8)
- ► November 2022 (1)
- ► September 2022 (4)
- ► April 2022 (1)
-
►
2021
(23)
- ► November 2021 (7)
- ► Oktober 2021 (1)
- ► April 2021 (1)
- ► Maret 2021 (9)
-
►
2020
(23)
- ► November 2020 (4)
- ► September 2020 (1)
- ► Agustus 2020 (3)
- ► April 2020 (1)
- ► Maret 2020 (5)
-
►
2019
(43)
- ► Desember 2019 (3)
- ► November 2019 (4)
- ► Oktober 2019 (5)
- ► September 2019 (5)
- ► Agustus 2019 (6)
- ► April 2019 (1)
- ► Maret 2019 (6)
- ► Februari 2019 (3)
- ► Januari 2019 (3)
-
►
2018
(8)
- ► November 2018 (2)
- ► Agustus 2018 (2)








